INDONESIA: Bangsa ataukah Bangsa…t!

Indonesia: Bangsa ataukah Bangsa…t!

Oleh: Har

garuda_RI

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya.

Indonesia sejak dulu kala, selalu dipuja-puja bangsa.

*

merah putih indonesiakuAkhir-akhir ini, kembali marak diperbincangkan kasus pelecehan yang dilakukan (orang) Malaysia terhadap Indonesia. Setelah kasus Sipadan, Ligitan, Ambalat, hak paten, TKI, kini kita lagi-lagi kebakaran jenggot dengan adanya pemelesetan lagu Indonesia Raya di sebuah website forum. Indonesia dipelesetkan dengan “Indon Sial”. Sedangkan para Indonesian netter membalasnya dengan kreatif pula: Malaysia jadi “Malingsia”. Kasus-kasus seperti ini pasti akan terulang jika kita (Indonesia) masih bersikap seperti sebelumnya, bersikap sebagai bangsa yang sok santun dan sok suka damai.

Indonesia, adalah bangsa yang besar! Kalimat seperti itu sering diperdengarkan semenjak kita kecil. Indonesia adalah zamrud katulistiwa, beribu-ribu pulau, beragam suku bersatu dalam kibar merah putih.

Indah sekali kata-kata mutiara tersebut.

Sebuah ungkapan normatif yang setelah kita melihat realitas, ternyata kita sering gelagapan ketika disodorkan kenyataan; betapa masih banyaknya rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan, betapa banyaknya bayi-bayi kekurangan gizi, dan betapa masih banyaknya ketimpangan, ketidakadilan serta penyelewengan-penyelewengan.

Apanya yang salah dengan bangsa ini?

merah putih bambu runcingSejarah telah mencatat bahwa Bangsa Indonesia punya sejarah gemilang. Dalam percaturan global, tak ada yang memungkiri eksistensi Sriwijaya, Majapahit atau juga kejayaan Pinisi sampai ke Madagascar. Soekarno, Soeharto, Habibie (lepas dari segala kekurangan mereka) adalah contoh dari beberapa tokoh Indonesia yang telah mampu memberi pengaruh pada dunia internasional. Indonesia adalah Negara pejuang. Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah hasil proses panjang dari kerja keras, pengorbanan, dan cita-cita luhur untuk mendirikan sebuah negara yang beradab dan bermartabat.

Lantas, kenapa begitu mudahnya Indonesia dijadikan bulan-bulanan?

pinisi nusantaraSebagai bangsa yang berdaulat, pada moment tertentu seharusnya kita menunjukkan power. Tentu kita masih ingat, bagaimana seorang Soekarno mengobarkan pekik Ganyang Malaysia; Amerika kita seterika; Inggris kita linggis. Atau bisa juga model Soeharto: hanya senyum tapi diam-diam mengerahkan tentara ke perbatasan dan kemudian memberi pesan ke dubes: Hayo… mau tak gebuk?

Sayang, kita sekarang memble. Berbagai macam persoalan yang membelit bangsa ini membuat bargaining power Indonesia semakin lemah. Hal ini diperparah dengan stereotype karakter para pemimpin kita yang masih mendewakan formalitas, basa-basi, dan rearistokrasi. Masih banyak yang gemar membungkus kebobrokan dengan alibi-alibi palsu. Sekali waktu, seharusnya bangsa kita show of force. Jangan terus-terusan jadi macan tidur. Jangan melulu digertak. Kadang kita sampai mengurut dada, berkali-kali disentil masih saja tetap adem-ayem. Atau barangkali, sudah jadi macan ompong?

soekarno_Indonesia, seperti juga bangsa-bangsa lain, menyimpan potensi radikalisme. Ini bisa tercermin dari sejarah nusantara sampai masa sekarang ini. Beberapa kisah pemberontakan, kudeta, perebutan wilayah kekuasaan, selalu melibatkan unsur radikalisme. Tentu harus ada manajemen dalam mengelola potensi tersebut sehingga tersalurkan ke ranah nasionalisme. Sayang, potensi tersebut lebih banyak ke hal negatif. Maka, jangan heran jika kemudian kita menyaksikan bagaimana refleksi radikalisme terejawantahkan dalam semacam tawuran antar supporter sepakbola, pendukung partai, atau anarkisme massa.

Dengan kata lain, kita mengakomodir para bangsat untuk kepentingan bangsa. Ketika bangsa ini dilecehkan, silahkan bikin polling: siap perang atau tidak. Saya yakin lebih dari 80% responden akan menjawab siap. Jadi, pemerintah tidak perlu khawatir akan kekuatan bangsa ini. Bangsa ini sudah jenuh dengan pengkibulan menggunakan alasan klise: amanat penderitaan rakyat, nasib anak cucu, perdamaian, dan sejenisnya sementara kepala kita diketok-ketok.pekiklantangindonesiajaya

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia memiliki banyak bangsat. Kalau mau dibahas secara mendetail, kita klasifikasikan menjadi dua golongan. Yang pertama, “bangsat elit”. Golongan ini lebih mengandalkan otak dan tipu daya untuk mem-bangsati bangsa sendiri. Status sosialnya, mentereng. Jabatan, siip. Jumlahnya? Luar biasa banyaknya. Mirip tikus yang hobinya menggerogoti, sangat sulit dibasmi. Maka jangan heran kalau bangsa ini diposisikan sebagai lumbung berlimpah untuk digerogoti sampai habis isinya, kalau perlu lumbungnya juga dikunyah-kunyah. Untuk menutupi kebusukannya, bangsat elit berkelit dengan konsep, ide, dan suara yang aduhai sangat indah – tapi sebenarnya… prekk!

Golongan bangsat yang kedua adalah “bangsat pinggiran”, kroco, kelas teri. Lebih banyak mengandalkan otot dan kedigdayaan fisik. Salah satu faktor yang membuat suburnya golongan bangsat ini ialah gara-gara lumbung padinya sudah habis dicuri. Apa daya, mau bersaing tapi sudah keok duluan oleh dalih undang-undang, prosedur, birokratisme, dan hukum yang dibelokkan untuk kepentingan bangsat elit. Hasilnya, di negeri ini bejibun jumlah bangsat pinggiran yang akhirnya berprofesi jadi preman, tukang palak, pencuri, perampok, sampai pembunuh bayaran.

Jadi, apanya yang kurang dengan bangsa ini?

Semua pbambu runcingotensi kita miliki. Termasuk, radikalisme dan bangsatisme. Jika ini tidak segera di-manage dengan baik, maka pada akhirnya akan makin melemahkan bangsa ini. Kasus dengan Malaysia, ataupun dengan negara-negara lain, hanyalah salah satu cerminan betapa kebesaran bangsa ini mulai pudar. Lebih dari itu, bangsa ini pada akhirnya hanyalah jadi sekumpulan para bangsat.

Tentu, harus ada pionirisasi dari para elit negeri ini untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia masih sebagai bangsa yang besar. Silahkan. Lebih dari dua ratus juta penduduk negeri ini siap mem-back up. Perlu, pada moment tertentu, pada timing yang tepat, merevitalisasi kembali semacam hamukti palapa, atau semboyan sekali layar terkembang; pantang biduk surut ke pantai!

Kenapa?nusantara dalam merah putih

Karena kita cinta bangsa ini.

Karena, bagi saya, Indonesia adalah tumpah darahku, tanah airku, pertiwiku, garudaku, merah putihku, Indonesia Rayaku, Nusantaraku. Aku ingin Indonesia menjadi sebuah bangsa yang besar; dan bukannya menjadi sebuah bangsa tempat berkumpulnya para bangsat.

Dan, tentu saja, hanya untuk Indonesia, saya berikrar: I love this country with all its faults.

Merdeka! Long Live Indonesia!!

***

Advertisements

6 responses to “INDONESIA: Bangsa ataukah Bangsa…t!

  1. Indonesia jaman dulu muaantaaapp, bahkan militernya saja pernah menjadi paling superior di aseia tenggara…. klo sekarang…!!?? 😆

    Nice inpho gan,…
    Salam kenal 🙂

  2. Kasihan pejuang2 kita, yang telah mengkorbankan nyawanya demi indonesia, untuk kemerdekaan indonesia,tapi sekarang harkat dan martabat bangsa diinjak2,qta diam saja…..

  3. @DayDreamer,
    Makasih banyak atas (sedikit) infonya. Nomaden… ini adalah sebuah kata (semacam kredo,haha) buat para avonturir sejati. Biasanya selalu link dengan: bohemian. Jadinya ialah sebuah rhapsody… (ingat lagi sy waktu masih muda dulu).
    It’s a wonderful life!

  4. Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih karena telah mengunjungi blog saya dan meninggalkan comment di post tentang Goa Maharani.

    Saya sangat menyukai post di blog Anda ini…

    Kita… Bangsa Indonesia… adalah Bangsa yang besar…
    Bagaimanapun ironisnya kenyataan yang ada, namun saya tetap meyakini kalimat tersebut. Apalagi setelah saya berkesempatan untuk melihat dan menyaksikan sendiri keindahan alam dan kekayaan budaya Bangsa kita di berbagai daerah di Nusantara.

    Saya rasa, tanpa harus menunggu tindakan dari elit Negeri ini, masing-masing dari kita dapat memberikan sumbangsih terhadap perkembangan dan pengenalan budaya dan kebesaran Bangsa kita kepada pihak lain (negara lain), melalui bidang yang kita kuasai.

    Tulisan di blog Anda ini adalah salah satu contohnya… (^_^)

    • Terima Kasih sudah menyempatkan diri ke sini.
      Benar, Negara kita penuh dengan potensi. Ini akan terasa betul ketika kita mengunjungi daerah-daerah di pelosok nusantara.
      Saya jg terkesan dg blog anda
      Selamat menjadi avonturir.
      Sukses selalu.

      • Wah, sebelumnya belum pernah ada yang sampai pada kesimpulan bahwa DayDreamer = dokterkecil…
        Saya memang sengaja tidak mencantumkan identitas yang sebenarnya…
        Sedikit profil singkat saja:
        An Indonesian blogger; berprofesi di bidang kedokteran; nomaden @ domisili berpindah-pindah; Hmm.. Menulis buat saya = berbagi & berharap bisa memberikan inspirasi…

        Keep blogging… Sukses selalu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s