Cerpen (1): Lalu, Apa?

Ketika masih muda dulu, saya lumayan aktif menulis cerpen. Sekedar mengingat masa lalu, berikut ini adalah salah satu cerpen saya yang dimuat di harian Fajar Makassar edisi 16 Maret 1997.

——-

LALU, APA? *)

Cerpen oleh Soe Har

senja

Kami terus mengayun langkah. Berjalan dan berjalan lagi. Terus mendaki. Ada yang bergumam, ada yang bertanya.

“Untuk apa semua ini?”

“Kapan kita sampai?”

”Kapan kita akhiri semua ini?”

Suara-suara itu hilang ditelan deru angin. Sementara, kaki-kaki kami terus terayun, masih menelusuri setapak demi setapak. Gumam, pertanyaan, keluhan, dan apa saja ucapan yang keluar dari mulut, tak ada lagi arti. Harus tetap berjalan. Mendaki dan mendaki lagi.

Kami tiba di sebuah padang yang datar. Kami berhenti. Istirahat. Suara-suara terdengar lagi.

”Saya lelah…”

”Saya juga.”

”Saya capek…”

“Saya juga.”

“Untuk apa semua ini?”

“Untuk apa perjalanan ini?”

”Ya, untuk apa?”

”Sudahlah, karena memang kita harus begini…”

Kami meneruskan perjalanan. Sebentar kemudian, kami mulai mendaki sebuah tebing. Ada yang berjalan biasa, ada yang merangkak, ada pula yang melata seperti ular.

Seorang di antara kami terpeleset, jatuh, lantas menggelinding turun. Sampai di bawah, di padang tempat kami istirahat tadi, tubuh itu tak bergerak-gerak. Pasti mati.

”Kasihan,” celutuk seseorang.

”Memang. Tapi itulah resiko,” sahut yang lain.

”Jadi bagaimana?”

”Tak ada pilihan lain. Kita lanjutkan perjalanan ini!”

Kami meneruskan pendakian. Ketika akan sampai di puncak, lagi seorang di antara kami tergelincir, jatuh tepat menimpa mayat teman kami tadi.

Kami berhenti.

”Kenapa berhenti?” terdengar sebuah tanya.

Tak ada yang menjawab.

”Itulah resiko! Mau tak mau, suka tak suka, kita harus memilih pilihan ini. Kita harus siap menerima segala resiko…”

”Hm, benar…,” gumam beberapa orang kemudian.

”Oleh sebab itu, mari, jangan berhenti!”

Kami bergerak lagi.

Saat sampai di puncak, kami menghela nafas lega. Kami merasa gembira, lantas tertawa sebebas-bebasnya. Tapi tak lama, ada seorang yang mulutnya tak bisa mengatup. Tubuhnya tak bergerak-gerak. Nampaknya orang itu terlalu banyak tertawa hingga napasnya habis. Ya, dia mati.

Kami terkesima.

Tak ada suara, tak ada tawa.

”Kenapa diam?” celutuk seseorang.

”Saya takut,” sahut yang lain.

”Saya juga…”

“Saya juga…”

”Saya ragu-ragu.”

”Saya juga…”

“Saya juga…”

Suara-suara itu bersahutan. Tapi beberapa saat kemudian, hening kembali.

”Kenapa takut? Kenapa ragu-ragu?!” Terdengar suara melengking. ”Bukankah ini yang harus kita lakukan? Bukankah memang hanya pilihan ini yang ada pada kita?!”

Beberapa orang mengangguk membenarkan.

Kami melanjutkan perjalanan. Di depan, sebuah tebing lagi.  Kami harus melewatinya. Ada yang dengan berjalan biasa, ada yang merangkak, ada pula yang melata seperti ular.

Dua orang tergelincir jatuh. Mati. Mati bersama-sama! Aneh. Akhirnya kami jadi terbiasa untuk hanya menatap sejenak mayat-mayat teman kami, lalu segera melanjutkan pendakian. Pun, ketika sampai di puncak ada beberapa yang menggeletak dan tak bergerak, respon kami biasa-biasa saja. Bahkan, mulai terdengar tawa. Ya, tawa yang kemudian terus menjalar, terus menyebar…

Kami tertawa semua.

”Nah, mudah dan ringan kan?”

”Betul…”

”Jangan terlalu dipikirkan resiko. Karena… yah, harus begini.”

”Betul…”

”Mari kita teruskan!”

Untuk pendakian tebing berikutnya, hati kami terasa ringan. Kami banyak tertawa. Ketika ada yang tergelincir jatuh dan mati, kami lihat mayat itu mulutnya terus menganga karena tawa yang tiba-tiba terputus.

Sampai di puncak, yang menggelatak dan tak bergerak-gerak makin bertambah jumlahnya. Kami terkesima. Ngeri oleh kematian yang disebabkan kehabisan tenaga dan juga kehabisan napas karena banyak tertawa.

Perlahan-lahan suara tawa kami mereda.

Kemudian, terdengar teriakan keras, ”Cukup! Cukup!! Kami sudah tak sanggup. Kami menyerah!”

Tak ada yang menyahut.

“Kapan perjalanan ini akan sampai? Sudah berapa banyak yang jadi korban karena kesia-siaan ini? Cukup sampai di sini! Kami sudah tak sanggup. Kami menyerah…”

”Betul…,” terdengar sahutan.

”Iya, betul…”

Tapi tak lama, suara-suara itu pun berhenti. Sunyi kembali.

Lalu, salah seorang di antara kami berteriak lantang, ”Tidak bisa! Kita tidak boleh menyerah, karena hanya ini yang harus kita lakukan. Ya, hanya ini, cuma satu, karena memang harus begini…”

Tak ada yang menyahut.

”Mari kita lanjutkan,” sambung suara itu. ”Hanya tinggal satu tebing yang harus kita daki…!”

Perlahan-lahan kami beringsut. Kami mulai melajutkan lagi perjalanan. Mendaki, terus mendaki. Ada yang berjalan biasa, ada yang merangkak, ada pula yang melata seperti ular. Korban terus berjatuhan. Tapi, tak ada lagi yang peduli.

Dan, akhirnya kami sampai di puncak. Tak ada lagi puncak yang lain. Tak ada lagi tebing yang lain. Inilah puncak di antara puncak-puncak. Inilah titik zenith.

Sunyi.

Hening.

Kami membisu.

Lalu, tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul. Sebuah pertanyaan yang terus menjalar, terus menyebar: “Lalu, setelah ini apa?”

*******

Catatan:

  • *) Cerpen ini pernah dimuat di Fajar Makassar, 16 Maret 1997 dengan judul “Setelah ini”. Ditulis ulang oleh penulis dengan editing seperlunya. (Soe Har)
  • Baca/download versi pdf, klik di sini>>>…

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s